Keranjang Belanja |

0 item - Rp. 0,00
MEMAAFKAN TIDAK SESULIT YANG DIBAYANGKAN
Harga:
Rp. 10.000,00

MEMAAFKAN TIDAK SESULIT YANG DIBAYANGKAN

Penerbit: MaPI (Majalah PI)
Penulis :MAPI Edisi 05 Th XIII Mei 2012
ISBN / EAN: 1411-8947
Size:24 x 15 x 0.5 (cm)
Jumlah:  Beli

Seorang teman pernah memberi nasihat agar saya memaafkan orang yang pernah berkata kurang benar terhadap diri saya pada sebuah acara reuni. Saya pun berpikir bahwa mungkin reaksi saya memang berlebihan dan sudah seharusnya saya memaafkan orang tersebut. Lagi pula, dia sudah menyadari kesalahannya dan berulang kali meminta maaf. Saya pun kemudian mengajukan kesepakatan bahwa saya akan memaafkan orang tersebut jika sang teman juga memaafkan istrinya yang telah berselingkuh. Apa yang dikatakan teman saya itu? “Ini beda. Perbuatan istri saya tidak termaafkan,” tegasnya dengan nada emosi. Saya pun berkata, apa bedanya. Toh, ini adalah hal yang sama, yaitu memaafkan.

Dalam hati, penulis tidak henti bertanya mengapa kita kerap membedakan subjek penerima maaf serta mengklasifikasikan tingkat kesalahan yang layak diberi maaf. Bukankah ketika sudah berniat, maaf hendaknya diberikan tanpa embel-embel apa pun? Meski demikian, kita lebih suka menahan daripada memberi maaf.

Baiklah, kalau Anda masih berkeras untuk membeda-bedakan subjek penerima maaf, paling tidak saya akan mengemukakan tiga alasan mengapa Anda harus memberi maaf sekarang juga. Pertama, Allah Swt. itu Maha Pemaaf. Anda tentu tidak mau dicap sebagai hamba durhaka yang menantang Tuhannya dengan melawan sifat-Nya sebagai Maha Pemberi Maaf, bukan? Ya, Allah Swt. saja mau memaafkan kesalahan hamba-hamba-Nya, lantas apa hak kita yang notabene sekadar hamba untuk tidak memaafkan kesalahan hamba Allah yang lainnya? Sekali lagi, jangan lancang!

Kedua, Anda bukanlah nabi yang sudah dipastikan suci dari dosa (maksum). Tentu saja, Anda juga pernah berbuat salah, baik yang disengaja maupun tidak. Pada kesalahan-kesalahan yang Anda perbuat secara tidak sengaja, tentu Anda ingin dimaafkan. Pada kesalahan-kesalahan yang Anda perbuat secara sengaja, tentu Anda ingin dimaafkan serta diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Kalau demikian, lantas mengapa Anda menutup diri terhadap permohonan maaf yang dilakukan oleh orang lain kepada Anda?

Ketiga, menahan maaf sama dengan membebani diri. Mungkin Anda menikmati ketika ada orang yang meminta atau bahkan sampai memohon maaf. Namun, hal tersebut tidak serta merta menjadikan Anda sebagai seorang pemenang. Anda baru akan keluar sebagai pemenang jika dapat memaafkan sebuah kesalahan serta membalasnya dengan kebaikan dan itu akan sangat melegakan. Saya bahkan berani bertaruh bahwa lebih mudah memaafkan daripada menyimpan dendam. Menyimpan dendam hanya akan membuat Anda tersudut dalam hasud dan kebencian.

Akhirnya, memang tidak ada yang dapat dengan benar-benar memberi maaf tanpa didasari ikhlas. Pengajuan sejumlah syarat memaafkan atau pilih-pilih objek penerima maaf adalah bentuk dari pemberian maaf yang tidak dilandasi keikhlasan. Ikhlaskan perasaan ingin membalas dengan perbuatan setimpal karena hanya Allah Yang Maha-adil dalam memberikan hukuman. Ikhlaskan rasa sakit dalam hati akibat kesalahan orang lain karena hati ini adalah sepenuhnya milik Allah Swt. Ikhlaskan pula ingatan yang senantiasa mengiyang akan kesalahan orang lain karena Allah akan membalas dengan ingatan yang jauh lebih nikmat di akhirat nanti.

Jadi, maafkanlah semua kesalahan orang-orang yang pernah menyakiti hati Anda hari ini juga dengan penuh tulus dan ikhlas. Insya Allah, Yang Maha Memberi Maaf juga akan memaafkan kesalahan Anda. Amin. [Muslik]

Tulis review

Nama Anda:


Review Anda: Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Bagus

Masukkan kode dalam kotak berikut:




Home  |  Daftar Keinginan  |  Account  |  Keranjang Belanja  |  Kasir

Copyright © Khazanah Intelektual Group 2017   Real Time Analytics