Keranjang Belanja |

0 item - Rp. 0,00
SALING PERCAYA KUNCI KELUARGA SAKINAH
Harga:
Rp. 10.000,00

SALING PERCAYA KUNCI KELUARGA SAKINAH

Penerbit: MaPI (Majalah PI)
Penulis :MAPI Edisi 03 Th XIII Maret 2012
ISBN / EAN: 1411-8947
Size:24 x 15 x 0.5 (cm)
Jumlah:  Beli

Maraknya kasus perceraian artis yang diikuti pula dengan perilaku masyarakat kita yang dengan begitu mudahnya menggugat cerai mencontoh perilaku artis idolanya membuat kita bertanya. “Kalau kata cerai itu dengan begitu mudahnya terucap, ke manakah ikrar setia dalam suka dan duka yang diucapkan pada akad pernikahan dahulu?” Terlepas dari penyabab perceraian yang begitu beragam, lembaga pernikahan sepertinya telah menjadi sedemikian rapuh sehingga tidak bisa lagi menopang permasalahan yang terjadi antara pasangan suami-istri. Kalau sudah begini, kita pun harus menanyakan ulang mengenai cara pandang mereka terhadap pernikahan serta alasan pernikahan yang mereka langsungkan.

Pengertian Pernikahan
Pernikahan merupakan sebuah pintu gerbang menuju sebuah kehidupan yang baru antara dua individu, laki-laki dan perempuan. Sejak dua individu bersepakat untuk menikah, maka (secara tertulis maupun tidak, diucapkan secara lisan maupun dibisikkan dalam hati) mereka bersepakat untuk menjalani peran baru. Mereka bukan lagi individu tunggal (single) dan bebas, tetapi telah menjadi pasangan suami-istri yang saling terikat.

Kehidupan baru itu pada dasarnya dimulai dengan persetujuan antara keduanya untuk membentuk suatu keluarga. Dalam kesatuan, keduanya setuju untuk membagi hidup bersama menghadapi keadaan susah maupun senang, menyesuaikan diri satu sama lain, membina cita-cita dan tujuan hidup bersama menuju kebahagiaan yang kekal. 
Pernikahan pun kemudian didefinisikan sebagai hubungan antara pria dan wanita yang diakui dan diatur oleh seperangkat hak dan kewajiban antara pasangan yang terlibat dalam perkawinan tersebut. Perkawinan juga didefinisikan sebagai terbinanya hubungan heteroseksual yang disahkan dan di dalamnya terdapat kewajiban membesarkan anak secara bertanggung jawab serta adanya pembagian kerja.

Sementara itu, Islam mendefinisikan pernikahan sebagai sebuah sarana menggapai ridho Allah Swt. melalui ikatan suci yang menghalalkan dua insan (laki-laki dan perempuan) menyalurkan kebutuhan biologisnya dalam naungan keluarga yang sakinah, ma wadah, wa rohmah. Dalam Islam, pernikahan memiliki beberapa tujuan, seperti mengikuti sunnah Rasulullah Saw., mendapatkan ketenteraman, cinta dan kasih sayang, menjaga pandangan mata dan memelihara kehormatan, membentuk generasi muslim yang berkualitas, serta melestarikan kehidupan atau peradaban umat manusia agar tidak punah.

Perkawinan akan melahirkan keluarga, sebuah unit terkecil dalam masyarakat. Dalam unit ini diharapkan norma serta aturan sosial dapat dilestarikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Warisan norma sosial yang dimiliki orangtua diharapkan dapat dilestarikan oleh anak cucu di masa yang akan datang.

Unsur utama dalam suatu keluarga terdiri dari pertama, suami sebagai kepala rumah tangga. Kedua, istri sebagai pengatur rumah tangga, pembantu suami, serta sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anak mereka. Ketiga, anak-anak sebagai calon generasi penerus, calon pewaris fisik (harta), dan psikis kedua orangtuanya. Unsur-unsur itulah yang menentukan sejahtera atau tidaknya suatu kehidupan bahtera perkawinan dalam suatu rumah tangga.

Alasan Pernikahan
Setiap individu mempunyai alasan tersendiri untuk melangsungkan perkawinan. Ada berbagai alasan seseorang melakukan perkawinan. Namun demikian, alasan yang paling umum adalah keinginan untuk hidup bersama dengan pribadi yang dicintai.
Seseorang akan tertarik untuk melangsungkan perkawinan karena di dalamnya akan terpenuhi beberapa kebutuhan, di antaranya sebagai berikut 

Pertama, kebutuhan psikologis. Pemenuhan kebutuhan psikologis adalah alasan yang terpenting untuk memasuki gerbang perkawinan. Dengan melakukan perkawinan, seseorang akan memperoleh tanggung jawab yang lebih terhadap pasangan beserta kehidupan rumah tangga mereka selanjutnya. Dari segi psikologis, perkawinan akan melahirkan dukungan emosional, rasa aman, pembelajaran untuk mengenal karakter satu sama lain, rasa saling memiliki, serta berbagi kasih sayang dan kebersamaan. 

Kedua, kebutuhan biologis. Di saat kaum sekuler menginjak-injak kesucian hubungan badan antara laki-laki dan perempuan dengan budaya free-sex, pemenuhan kebutuhan biologis yang dibingkai dalam lembaga perkawinan menjadi sesuatu yang diagungkan. Di sinilah pernikahan menjadi sebuah pembeda antara hubungan seksual yang dilakukan binatang atas dorongan instingnya semata dengan hubungan seksual yang dilakukan manusia atas dasar norma, dalam hal ini agama. 

Ketiga, kebutuhan materi. Termasuk di dalamnya adalah kebutuhan sandang, pangan, perumahan, pendidikan, kesehatan, serta hiburan. Kebutuhan-kebutuhan ini harus terpenuhi, tentu saja dengan variasi dan komposisi beragam sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Selain pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut, alasan seseorang untuk menikah adalah:
1. Tuntutan usia.
2. Dorongan untuk cepat memiliki keturunan.
3. Merasa sudah mapan dan siap secara finansial dan mental.
4. Tuntutan dari orangtua dan orang di sekelilingnya.
5. Mempunyai ambisi yang besar untuk mencapai status sosial tinggi.
6. Keinginan untuk mengabadikan nama leluhur.

Tulis review

Nama Anda:


Review Anda: Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Bagus

Masukkan kode dalam kotak berikut:




Home  |  Daftar Keinginan  |  Account  |  Keranjang Belanja  |  Kasir

Copyright © Khazanah Intelektual Group 2014   Real Time Analytics