Keranjang Belanja |

0 item - Rp. 0,00
April 19, 2013, 5:19 am

mengapa menunda menikahSebagian orang terlalu takut dan banyak pertimbangan sebelum menikah. Mereka takut tidak dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai pasangan suami-istri. Sementara, sebagian yang lain memutuskan untuk sesegera mungkin menikah. Dan, permasalahan kemapanan ekonomi adalah yang akan dipikirkan dan dicarikan jalan kelurnya setelah menikah.

Bila dalam banyak film drama percintaan, kisah kedua tokoh ditutup dengan frasa “happy ending” setelah mereka memutuskan untuk menikah, maka dalam drama nyata, justru persoalan yang lebih besarlah yang menanti di depan mata. Problematika mendidik anak dan permasalahan ekonomi adalah dua dari sekian persoalan yang akan dihadapi pasangan suami-istri. Kedua hal tersebut, sebagaimana permasalahan rumah tangga lainnya, berpotensi untuk menggerogoti janji sehidup semati yang pernah diucapkan saat menikah.

Karena tidak ada rumah tangga yang steril dari masalah, maka yang perlu dipersiapkan adalah mental dan kematangan pribadi pasangan suami-istri. Dalam bahasa yang lebih formal, pasangan suami-istri harus memiliki visi dan misi yang sama dalam membangun bahtera rumah tangga. Setidaknya, jika pasangan suami-istri sudah memahami bahwa kehidupan berumah tangga tidak akan selamanya mudah, mereka akan bersiap diri mencari jalan keluar atas permasalahan tersebut.

Di sinilah kita akan dipaksa untuk mengakui kebenaran ungkapan “don’t judge the book by its cover”. Karena sesungguhnya, modal utama mencari padangan hidup bukan terletak pada rupa, harta, atau silsilahnya. Ya, agamalah yang harus menjadi dasar kita menentukan pasangan hidup sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Perempuan itu dinikahi karena empat faktor, yaitu agama, martabat, harta, dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Mengapa harus agamanya? Tidak lain karena rupa dapat berubah seiring berjalannya waktu. Kalau cantik atau tampan dijadikan alasan utama menikah, maka bersiap-siaplah melihat wanita cantik dan pria tampan yang Anda nikahi hari ini berubah menjadi kurang menarik. Ya, rambut itu akan memutih, kulit mulus itu akan mengeriput, dan postur tegap itu akan membongkok termakan usia. Kalau cantik dan tampan menjadi acuan, kita akan mudah berpaling ke lain hati karena memang rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau, bukan?  

Begitu pula dengan harta. Pasangan Anda mungkin saja kaya pada hari ini sehingga dia dapat membiayai pernikahan mewah yang sudah lama Anda idam-idamkan. Namun ketahuilah, suatu saat harta tersebut bisa saja lenyap dalam sekejap karena berbagai sebab. Lagipula, harta bukanlah ukuran kebahagiaan berumah tangga. Kalau memang harta menjadi alasan kebahagiaan berumah tangga, tentu para sosialita tersebut kehidupan rumah tangganya akan adem ayem. Kenyataannya, mereka juga menghadapi permasalahannya sendiri, bukan?

Keturunan pun tidak dapat dijadikan jaminan kebahagiaan. Ingatlah selalu bahwa keshalehan tidak diturunkan begitu saja melalui pertalian darah. Tentu kita masih ingat dengan kasus orang terpandang di negeri ini yang keturunannya terpaksa berurusan dengan pihak berwajib kerena kedapatan tengah berpesta sabu? Pun, kita tidak bisa menghakimi bahwa seorang anak berhak menanggung kesalahan atau kejahatan yang pernah diperbuat orangtuanya, bukan?

Akhirnya, hanya pemahaman agama yang baiklah yang dapat melahirkan visi misi rumah tangga sakinah, mawaddah, dan rahmah. Agamalah akan membentengi suami-istri dari perbuatan melenceng. Dengan mengembalikan semua pada Yang Maha Mengetahui Solusi Permasalahan, kita akan lebih ikhlas menjalani problematika rumah tangga.
Dan, buku ini akan lebih menjelaskan lagi mengenai pentingnya pemahaman agama dalam menghadapi problematika rumah tangga. Di dalamnya diuraikan sejumlah pertanyaan yang memang kadang terlewatkan oleh calon pengantin yang akan menikah. Mereka lupa bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut mesti dijawab, atau paling tidak diketahui gambaran jawabannya, sehingga kelak ketika permasalahan tersebut benar-benar terjadi, mereka siap atau paling tidak telah mempersiapkan diri.
Akhirnya, tidak ada lagi kata yang lebih tepat diucapkan kecuali ajakan untuk menyegerakan sunah menikah. Berbekal pengetahuan dalam buku ini, insya Allah, kita siap. Insya Allah!

Judul : MENGAPA MENUNDA NIKAH?
Dan 16 Pertanyaan Lain Yang Harus Anda Jawab Sebelum Menikah

Penulis : Aam Amiruddin & Ayat Priyatna Muhlis
ISBN : 978-979-3838-52-6
Ukuran : 13 x 20 cm
Halaman : xii + 108
Terbit : Maret 2013
Penerbit : Khazanah Intelektual
Harga : Rp. 36.000,-
 


12»»

Buku Islam dan Majalah Islam Bandung


Home  |  Daftar Keinginan  |  Account  |  Keranjang Belanja  |  Kasir

Copyright © Khazanah Intelektual Group 2017   Real Time Analytics