Keranjang Belanja |

0 item - Rp. 0,00
July 10, 2011, 8:37 pm

Merajalelanya kemaksiatan dan kriminalitas adalah bukti bahwa bangsa ini mengidap dekadensi moral akut. Parahnya, gejala ini bukan hanya menimpa masyarakat kalangan bawah, tetapi juga meliputi berbagai kalangan yang menjadi panutan masyarakat kita. Tingginya tingkat korupsi dan kolusi, baik yang dilakukan birokrat maupun tokoh lainnya, membuat masyarakat kehilangan panutan yang pada gilirannya melahirkan krisis keteladanan.

Selain itu, banyak umat Islam (terutama generasi muda) yang mengidolakan bahkan hingga meniru perilaku tokoh-tokoh populer tertentu. Ada kalanya, umat memang mengidolakan tokoh-tokoh yang memiliki prestasi positif; misalnya atlet, ilmuwan, dai, atau seniman. Tetapi sering pula kita melihat bahwa tokoh-tokoh yang dijadikan panutan tersebut adalah manusia-manusia yang sesungguhnya memiliki perilaku yang jauh dari konsepsi islami.

Contoh yang paling sederhana adalah mengikuti cara berpakaian artis-artis populer mancanegara yang memiliki kecenderungan membuka aurat. Belum lagi gaya hidup artis-artis tersebut yang dekat dengan minuman keras, seks bebas, dan perilaku negatif lainnya. Inilah yang menjadikan bangsa kita semakin terpuruk.

Sungguh sangat menyedihkan! Bangsa kita yang mayoritas muslim, kerap mengingkari ketauladanan Rasulullah Saw. Padahal, Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia sebagaimana sabdanya, Innama bu‘itstu liutammima makaarimal akhlaqi (Bahwasanya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak mulia).

Para ahli menyebutkan bahwa salah satu penyebab krisis moral adalah krisis keteladanan. Para pemimpin seharusnya menjadi tauladan bagi rakyat, akan tetapi justru mereka memberikan andil yang lebih besar terhadap kondisi seperti sekarang ini. Kerusakan moral seharusnya tidak terjadi seperti sekarang ini. Bukankah kita (umat Islam) telah memiliki suri tauladan yang sempurna? Sebagaimana firman Allah Swt. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 21)

Bulan ini, kita kembali memasuki bulan Rabiul Awwal yang di dalamnya terdapat hari dilahirkannya seorang manusia pilihan penyempurna risalah yang dibawa sejak nabi Adam a.s. Rasanya tepat bagi kita untuk bermuhasabah sejenak, kembali merenungi sosok agung tersebut agar kita dapat kembali ke jalan yang diridhai Allah Swt.

Ya, Muhammad bin Abdullah adalah sosok yang begitu indah akhlaknya, sangat santun perangainya, halus tutur katanya, serta bersikap lemah lembut terhadap sesama dan tegas (keras) terhadap orang-orang kafir. Sebelum diangkat sebagai nabi, Muhammad mendapatkan gelar Al-Amin (sosok yang kredibel) dari masyarakat kota Mekkah sebagai bukti akan kejujurannya.

Materi : Bahaya Akidah Valentine, Akhlak Bertanya, Shaum Daud & Fitness, Penghambat Pertolongan Allah


12»»

Buku Islam dan Majalah Islam Bandung


Home  |  Daftar Keinginan  |  Account  |  Keranjang Belanja  |  Kasir

Copyright © Khazanah Intelektual Group 2017   Real Time Analytics